Begitulah yang terjadi.

Ini ujung cerita yang selama ini aku tulis. Bukan bahagia yang terjadi. Melainkan kenyataan yang sebenarnya telah terduga sebelumnya. Intuisi begitu kuat. Aku membencinya.

Berulang kali ku coba menepisnya. “Bukan. Ini bukan akhir. Ini hanya jeda. Jeda yang akan kembali berulang.” Begitu ku coba menyugestikan diri.

Tapi pada kenyataan, setelah itu semua tak kembali berulang. Apapun tentang segalanya yang sebenarnya belum pernah terucap. Ini menyakitkan, dan aku sedang merasakan. 

Aku kira sakitnya sama ketika empat setengah tahun lalu. Ternyata yang sekarang melebihi dulu. Sebab, waktu telah membawaku memupuk harapan yang jauh lebih tinggi. Bersama kamu, yang ku rasa akan jauh berbeda dalam bersikap.

Inginku lupakan segalanya yang pernah terjadi. Tapi segalanya telah terekam baik dalam ingatan. Termasuk juga soal janji.

Aku tak pernah berani. Apalagi untuk mengakhiri. Sebab aku takut, kamu tak pernah memulai, mengapa kini aku memintamu untuk mengakhiri.

Begitulah yang terjadi. Mari saling membebaskan. Kamu dengan caramu, dan aku tentu akan mengikuti caramu. Meski menyakitkan. Ini resiko.